BNG-082 Temukan Lapisan Produktif Baru, Adera Field Perkuat Ketahanan Energi
PALI, 9 September 2026 — Lapangan migas yang telah berusia matang bukan alasan untuk berhenti mencari potensi baru. Di tengah tantangan lapangan yang tak lagi muda, Pertamina EP Adera Field justru terus menyalakan harapan baru bagi ketahanan energi nasional.
Melalui pendekatan berbasis integrasi data subsurface, Pertamina EP yang merupakan bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 4 (PHR Zona 4) berhasil mengembangkan Sumur BNG-082.
Sumur pengembangan yang dibor di lokasi eksisting tersebut berhasil membuka peluang produksi dari lapisan produktif baru, TAF-P2a, yang sebelumnya belum pernah diproduksikan oleh sumur-sumur di sekitarnya.
Pengeboran BNG-082 diselesaikan dalam 32 hari, lebih cepat dari target 36,6 hari, dengan pelaksanaan yang aman dan tanpa kecelakaan.
Hasilnya pun menjanjikan. Berdasarkan initial flow test pada 16 Agustus 2026, BNG-082 menunjukkan potensi produksi mencapai 302,4 barel minyak per hari (BOPD) dan 5,597 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) pada kondisi open flow, yakni aliran migas natural tanpa hambatan pada katup kepala sumur (choke).
Manager Subsurface Development Area 1, Budi Darmawan, mengatakan pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa inovasi dan pemanfaatan data dapat membuka peluang baru di tengah karakter lapangan migas yang semakin matang.
“Pencapaian ini menjadi bukti inovasi berbasis integrasi data subsurface yang terus dilakukan Pertamina EP dapat membuka potensi-potensi baru yang memungkinkan lapangan mature tetap bisa berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional,” ujar Budi Darmawan.
Tambahan produksi dari BNG-082 akan menjadi bagian dari upaya mencapai target produksi Pertamina EP Adera Field dalam Work Program & Budget (WP&B) 2026, yakni sebesar 4.537 BOPD minyak dan 22,21 MMSCFD gas.
Keberhasilan BNG-082 tidak lahir dari pengeboran semata. Di baliknya terdapat proses panjang membaca karakter reservoir melalui data dan teknologi.
Budi menjelaskan, pengembangan sumur tersebut ditopang pendekatan layer-focused and data-driven development drilling. Tim mengintegrasikan pemodelan geologi, interpretasi seismik multiatribut, serta akuisisi data MDT-LFA untuk mengevaluasi tekanan, jenis fluida, hingga indikasi konektivitas reservoir pada setiap lapisan.
Pengembangan BNG-082 juga menggunakan metode Sectorization Zoning Model, yakni pemetaan zona prospektif melalui integrasi dan stacking peta Hydrocarbon Pore Volume (HCPV) dari berbagai lapisan.
Pendekatan tersebut memungkinkan tim mengidentifikasi wilayah yang memiliki peluang lebih besar mengandung lapisan produktif sehingga penempatan sumur baru dapat dilakukan secara lebih terarah, efektif, dan efisien.
“Dengan pendekatan-pendekatan ini, kami bisa memetakan area mana yang punya peluang lebih besar mengandung lapisan produktif, sehingga penempatan sumur baru bisa lebih terarah, efektif, dan efisien,” kata Budi.
Struktur Benuang menjadi salah satu penopang produksi migas di wilayah kerja Pertamina EP Adera Field dan PHR Zona 4.
Berbagai inovasi terus diterapkan untuk mengoptimalkan potensi struktur tersebut. Salah satunya melalui penerapan dual string pada pengembangan Sumur BNG-080 pada Juni 2026.
Teknologi dual string memungkinkan produksi dari dua lapisan reservoir dalam satu sumur. Dalam initial flow test yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026, lapisan TAF-L1 menunjukkan potensi produksi gas sebesar 2,836 MMSCFD.
Sementara lapisan TAF-N2 menunjukkan potensi produksi 572,8 BOPD minyak dan 1,666 MMSCFD gas.
Rangkaian pencapaian tersebut menunjukkan bahwa lapangan migas yang telah memasuki fase matang masih menyimpan ruang untuk terus dikembangkan.
Di balik lapisan bumi yang selama ini seolah telah dibaca, masih terdapat cerita yang belum selesai. Teknologi, data, dan ketekunan manusia menjadi kunci untuk membukanya.
Bagi ketahanan energi nasional, setiap lapisan produktif yang ditemukan bukan sekadar angka produksi.
Ia adalah tambahan energi untuk negeri, sekaligus pengingat bahwa ladang migas yang menua belum tentu kehilangan masa depannya.
PHR Zona 4 merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina Regional Sumatra yang dipimpin oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
PHR Zona 4 mengoperasikan tujuh wilayah kerja Pertamina EP (PEP) dan Pertamina Hulu Energi (PHE), yakni PEP Prabumulih Field, PEP Limau Field, PEP Adera Field, PEP Pendopo Field, PEP Ramba Field, PHE Ogan Komering, dan PHE Raja Tempirai.
Wilayah kerja tersebut tersebar di dua kota, yakni Prabumulih dan Palembang, serta sembilan kabupaten, yaitu Muara Enim, PALI, Lahat, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ulu.
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, PHR Zona 4 berada di bawah koordinasi dan pengawasan SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).***

Komentar
Posting Komentar