Kemarau Membakar Bumi, Warga Tanah Abang Ketuk Pintu Langit
PALI — Ketika bumi mulai retak dan sungai perlahan menyusut, manusia kembali sadar: air bukan sekadar kebutuhan, melainkan denyut kehidupan.
Kemarau panjang yang melanda membuat sebagian wilayah Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, semakin kering kerontang. Tanah kehilangan basahnya, sumber air mulai berkurang, dan kekhawatiran akan kekeringan terus membayangi kehidupan masyarakat.
Namun, di tengah penantian panjang itu, warga memilih untuk tidak menyerah.
Pintu langit diketuk. Pagi Selasa, 8 September 2026, ratusan masyarakat Kecamatan Tanah Abang berkumpul di hamparan pasir tepian Sungai Lematang, Desa Tanah Abang Selatan.
Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, pemerintah desa, anggota DPRD, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga warga biasa melebur dalam satu barisan.
Mereka datang bukan untuk meminta kepada sesama manusia. Mereka datang untuk bersujud dan memohon kepada Sang Pencipta.
Melalui pelaksanaan Salat Istisqa, warga memanjatkan doa agar Allah SWT segera menurunkan hujan sebagai rahmat dan sumber kehidupan bagi seluruh makhluk di muka bumi.
Di atas hamparan pasir yang kering, manusia menundukkan kepala. Tangan-tangan terangkat ke langit. Doa mengalir dari hati yang berharap.
Ada kegelisahan di sana. Ada kecemasan. Namun lebih dari itu, ada keyakinan bahwa manusia boleh kehilangan banyak hal, tetapi tidak boleh kehilangan harapan kepada Allah SWT.
Salat Istisqa menjadi ikhtiar spiritual di tengah kemarau yang tak kunjung berakhir. Sebuah pengakuan bahwa sebesar apa pun kemampuan manusia, tetap ada kuasa yang berada di luar batas kemampuan manusia.
Langit hanya menunggu perintah-Nya. Hujan yang dinanti bukan semata-mata untuk membasahi tanah. Ia adalah air minum bagi manusia, sumber kehidupan bagi hewan, penyambung hidup bagi tumbuhan, serta penopang bagi kehidupan masyarakat.
Karena itu, kemarau semestinya tidak hanya mengajarkan manusia untuk berdoa ketika air menghilang.
Kemarau juga harus mengajarkan manusia untuk menjaga air sebelum ia benar-benar tiada.
Jangan menunggu sungai mengering untuk menyadari betapa berharganya air. Jangan menunggu sumur kehilangan mata air untuk mulai peduli terhadap lingkungan.
Air adalah amanah. Sungai adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga. Lingkungan bukan warisan yang boleh dihabiskan sesuka hati, melainkan titipan yang kelak harus dipertanggungjawabkan.
Hari itu, warga Tanah Abang telah melakukan ikhtiar. Mereka mengetuk pintu langit dengan doa, setelah bumi begitu lama menanti sentuhan hujan.
Kini, harapan itu disandarkan kepada Allah SWT. Semoga langit segera mengirimkan kabar baik. Semoga awan kembali berkumpul, angin membawa kesejukan, dan hujan turun membasahi bumi PALI yang tengah dahaga.
Sebab bagi manusia yang telah sampai pada batas ikhtiar, doa adalah kekuatan terakhir yang tidak pernah kehilangan harapan.
Dan ketika hujan akhirnya turun, semoga manusia tidak hanya bersyukur karena air kembali hadir, tetapi juga belajar untuk menjaganya.
Allahumma sayyiban nafi'an. Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat, hidupkanlah bumi kami, cukupkanlah air bagi makhluk-Mu, dan jadikanlah hujan-Mu sebagai rahmat bagi seluruh kehidupan. ****

Komentar
Posting Komentar